Sabtu, 17 September 2016

SUARA KELUARGA PADA PENGUBURAN IGNASIUS BORO GURU

(Yohanes Rou Boli)

Kaan ketin Ama Sanga Berahan, ama Raya Hama, Ama Asman Kewa Aman noon kakan arin wahang kae kodhana kirina untuk kaan marin Ina ama, kaka ari, opu alap, bai breun, nimun naman singkatnya One melan ine senaren wahang kae di bawa tenda duka nin. 

Sebelum kame marin kirin betou rua, pertama – tama kame keluarga leta maaf aya- aya, puken wia he kame marin penguburan kame anakem kame arikem ni tepat jam 1 siang, namun berhubung kondisi jenasah kame anakem kame arikem yang kurang bersahabat ini sehingga penguburan lebih cepat dari jadwal yg direncanakan. 
 
Toumu bahwa dengan kondisi yang ada nin maka peti jenasah tetap rae lango onen, sehingga mio wahangkae beto geniko kame anakem ata hae moiro naku mungkin beaya moiro hala, keluarga leta ake maan bekene.

Makenen tabe herun susah lali hau nawa nen elun matan take. Wia reron tite wahang kae dikejutkan dengan musibah duka yang menimpa keluarga kame pi pita uma lango lodo. Kame anakem, kame arikem Ignas Boro Guru na letu matan nai geniku alapet teti kowa teti kelen. Mio wahang kae maan bera- bera beto geniko kame mulai wia reron, wia rema sampe pi reron ni. 

Pada kesempatan ni, kame dari keluarga mengucapkan terima kasih aya-aya kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing membantu meringankan beban keluarga dalam menghadapi musibah duka ini.
 Ucapan terima kasih juga kame sampaikan kepada opu alap, bai breun, nimun naman, one melan senaren wahang kae, yang mana mio ikhlas meluangkan waktu, look olhane welu krerhane untuk beto geniko kame ti tite hama –hama odo dopen kame anakem kame arikem Ignas Boro Guru ni. Sekali lagi terima kasih aya-aya. 

Terima kasih juga kame keluarga ucapkan buat seluruh anak Lewotana yang tergabung dalam arisan HORINDU(Honihama- Riangduli) di kota Jayapura yg mana telah membantu kame anakem sejak na hudi umenen pertama kali teti tanah papua sampai pada akhirnya membantu memfasilitasi kepulangannya ke Lewotana Honihama. Sekali lagi terima kasih aya-aya. 

Budi baik mio wahang kae kame keluarga balas bisa hala, namun kami serahkan kepada Tuhan untuk membalasnya. Sebagai ata diken, kame anakem kame arikem Ignas Boro Guru selama na moripa kurang lebih 30 tahun, mungkin dalam keseharian hidupnya nulun naen sare hala, walen naen dike kuran, koda kirin naen noon peat lengat teka de mio oneke hala, kame atas nama Ignas leta maaf aya-aya. Dengan maaf dari mio wahang kae akan meringankan langkahnya untuk nai herun alapet teti kowa kelen tukan.

Pada kesempatan berikut, kame keluarga leta maaf aya-aya, apabila ada hal-hal yg ditemukan baik dalam sikap dan pelayanan kame yang tidak berkenan di hati bapak ibu sekalian mulai wia reron, wia rema sampe pi reron ni, kame leta maaf aya-aya, ake beke ake hola. Keluarga juga masih mengharapkan kesedian Ina ama sekalian untuk hadir bersama kami dalam doa arwah selama 3 malam berturut-turut mulai esimu rema, bauk rema dan eren rua rema.

Kesempatan terakhir, keluarga juga masih mengharapkan kepada tite wahang kae agar sesudah upacara penguburan ni tite bersabar sebentar, Ina wae tekan wua malu ki, ama lake golo kebako, behin muan papan muan nage tite tena tewa.

Akhirnya atas nama keluarga besar suku Tana Boleng, kami menyerahkan jenasah kame anakem, kame arikem Ignas Boro Guru ke tangan Dewan Pastoral Stasi St. Yudokus Honihama untuk dimakamkan secara adat Katolik.

Suara keluarga diwakili oleh Yohanes Rou Boli, pada Upacara Penguburan Ignasius Boro Guru, Jumat, 16 September 2016 di Dusun Lewobelolo Desa Tuwagoetobi.

RIWAYAT SAUDARA IGNASIUS BORO GURU

(Ignasius Boro Guru. 1986- 2016)

Boro Guru, lahir dari pasangan suami - istri Bapak Maksimus Raya Hama dan Ibu Kristina Kewa Payon. Ia lahir di Honihama, tepat tanggal 8 Juni 1986, Putra sulung dari tiga bersaudara, adik Ermelinda Dai Doni dan Bartolomeus Bao.

Dalam keyakinan katolik, Boro Guru dipermandikan dengan nama lengkap, Ignasius Boro Guru di Gereja St. Yudokus Honihama.

Mulai mengenal dunia pendidikan pada tahun 1993. Belajar selama 6 tahun di SDK Honihama dan tamat pada tahun 1999 bersama teman - teman seangkatan diantaranya Stanis Lamapaha, Aleks Muli, Mely, Ely Bahi, Meri Boleng, Karol Cr, Rofin Ola, Ito Bahi, Wens Kurman, Yance Bahi, Tinus Pugel, Kristina Barek Arane, Wilem Wara, Daprosa Prada, Ester Murin Boro, Hermina Wae Raya, Ina Osi, Busa Bolen, Agata Geben, Didakus Beda Ola, Nikah Tokan, dan Maksi Masan.

Tamat sekolah dasar, Ia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP di SMPN 2 Adonara Timur Witihama tahun 1999, tamat pada tahun 2002. Selanjutnya ke jenjang SMA di SMAK Lamaholot Witihama, namun tidak tamat. Tak lagi di dunia pendidikan, Ignas Boro Guru untuk pertama kalinya mengadu nasip diperantauan pada tahun 2006. Saat itu, Ignas merantau bersama Stanis Lamaile dengan tujuan Jayapura.

Di Jayapura, Ia bersama teman - teman yang sudah lebih dulu di Jayapura diantaranya Karol Kopong Kuma, Poni Pugel, Konce Pugel dan Carol Curman, Emen Curman, Rinus Curman, dll. Tempat kerja mereka yang pertama di CV. Multimandiri dengan tugas menghantar barang barang sembako keliling Jayapura. Pengalaman kerja ini menghantar Ignas Boro menjadi sopir taksi dalam Kota Jayapura. Brutal sapaan gaul teman - teman seangkatannya, bekerja sebagai sopor taksi dengan majikan seorang tentara asal Jawa.
Horor, nama taksi yang selalu setia bersamanya mengais rejeki di Tanah Papua.

Sebagai sopir angkot, suka duka sungguh terasa. Suka disaat setoran harian sesuai target. Namun duka disaat ditilang petugas keamanaan karena kelalian yang dilakukan. Tahun 2010, Ignas Boro kembali ke Kampung sejak merantau tahun 2006.

Tak berselang lama di kampung, Ignas Boro kembali lagi ke Jayapura dengan pekerjaan yang sama, sopir taksi kota. Di Jayapura sejak 2010 hingga 2012, Ignas Boro Menemukan jodohnya, dan menikah dengan Enjel Langodai.

 Ditahun ini, Ia kembali ke kampung dan berada dikampung dari tahun 2012 hingga 2014. Dua tahun di kampung, Ignas Boro terlibat aktif bersama murine Lewobelolo. Ia dikenal gesit saat menjalankan peran pelayanan disaat ada kematian di Dusun Lewobelolon. Ia sempat dipercayakan menjadi bendara Kelompekcapir Karya Baru dimasa pimpinan Aleksander Bahi. Agustus 2014 Ignas Boro kembali ke Jayapura, masih dalam pekerjaan yang sama.

Gejala sakit mulai Ia rasa di Bulan Juli tahun 2016. Sakit berawal di area mulut. Terasa seperti Sariawan. Hingga terjangkit ke tenggorakan. Awalnya terasa biasa saja. Namun lama kelamaan gejala sakit ini semakin terasa. Tanda berikut adalah penurunan berat badan. Di Jayapura, bersama teman - temannya Ia dihantar ke beberapa rumah sakit, namun penyakit apa yang diderita tidak bisa didiagnosa. Agustus 2016, dengan dukungan dari teman - teman Perkumpulan Arisan Honihama Riangduli, Ia kembali ke kampung dengan menumpang pesawat Jayapura - Makasar. Makasar - Larantuka dengan Menumpang Kapal Lambelu dan tiba di Kampung halamannya Honihama.

Dalam kondisi sakit. Keluarga berusaha mencari jalan keluar penyembuhan baik medis maupun non medis. Upaya ini, genap sebulan. Ada perubahan, namun perubahan itu tidak membuat Ignas Boro sembuh dari sakit yang ia derita. Ignas Boro Sembuh total pada Hari Kamis 15 September 2016 Pkl 10.00 saat menghembuskan nafas terakhir dijemput pemilik kehidupan, sang khalik, Tuhan yang kuasa. Ia meninggal pada rentang usia 30 tahun 3 bulan 7 hari.Meninggalkan oramg tua, istri Enjel Langodai dan Anak semata wayang Sandra yang saat ini berusia 3 Tahun.

UCAPAN BELANGSUNGKAWA DI FACEBOOK

Dari Perkumpulan Arisan Honihama - Rianghduli yang diwakili David Bahy Ongenulan.
" Kami perkumpulan Honihama - Riangduli di Jayapura turut berlangsungkawa atas dipanggilnya anak, saudara kami, Ignasius Boro Guru. Kami mendoakanmu semoga arwah adik kami ini diterima di sisi kanan Allah Bapa yang maha kuasa. Budi baik saudara kami ini tidak dapat membalasnya, hanya kami serahkan kepada Tuhan untuk membalas semua ini. Doa kami menyertai kepergiannmu. "Amane, molo lau. Nuane tou tite hama - hama heru lau lewo mure"

Aryantho Choerman
Peteno tua di Boro, Rera Bau kae ne mo biasa telponek. " Arik, dai tenu kopi pia lango ki naku pehen batang be telo di melah. Kenehi tua di mo Boro.. Ama Brutallo, mo molo kame dore.


Disusun oleh : Maksimus Masan Kian, Stanislaus Lamapaha, Rinus Kurman, Karolus Kopong Kuma, Alexander Muli Boli.
Dibacakan oleh Stanislaus Lamapaha pada Acara Penguburan, Jumat 16 September 2016.