Sabtu, 17 September 2016

RIWAYAT SAUDARA IGNASIUS BORO GURU

(Ignasius Boro Guru. 1986- 2016)

Boro Guru, lahir dari pasangan suami - istri Bapak Maksimus Raya Hama dan Ibu Kristina Kewa Payon. Ia lahir di Honihama, tepat tanggal 8 Juni 1986, Putra sulung dari tiga bersaudara, adik Ermelinda Dai Doni dan Bartolomeus Bao.

Dalam keyakinan katolik, Boro Guru dipermandikan dengan nama lengkap, Ignasius Boro Guru di Gereja St. Yudokus Honihama.

Mulai mengenal dunia pendidikan pada tahun 1993. Belajar selama 6 tahun di SDK Honihama dan tamat pada tahun 1999 bersama teman - teman seangkatan diantaranya Stanis Lamapaha, Aleks Muli, Mely, Ely Bahi, Meri Boleng, Karol Cr, Rofin Ola, Ito Bahi, Wens Kurman, Yance Bahi, Tinus Pugel, Kristina Barek Arane, Wilem Wara, Daprosa Prada, Ester Murin Boro, Hermina Wae Raya, Ina Osi, Busa Bolen, Agata Geben, Didakus Beda Ola, Nikah Tokan, dan Maksi Masan.

Tamat sekolah dasar, Ia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP di SMPN 2 Adonara Timur Witihama tahun 1999, tamat pada tahun 2002. Selanjutnya ke jenjang SMA di SMAK Lamaholot Witihama, namun tidak tamat. Tak lagi di dunia pendidikan, Ignas Boro Guru untuk pertama kalinya mengadu nasip diperantauan pada tahun 2006. Saat itu, Ignas merantau bersama Stanis Lamaile dengan tujuan Jayapura.

Di Jayapura, Ia bersama teman - teman yang sudah lebih dulu di Jayapura diantaranya Karol Kopong Kuma, Poni Pugel, Konce Pugel dan Carol Curman, Emen Curman, Rinus Curman, dll. Tempat kerja mereka yang pertama di CV. Multimandiri dengan tugas menghantar barang barang sembako keliling Jayapura. Pengalaman kerja ini menghantar Ignas Boro menjadi sopir taksi dalam Kota Jayapura. Brutal sapaan gaul teman - teman seangkatannya, bekerja sebagai sopor taksi dengan majikan seorang tentara asal Jawa.
Horor, nama taksi yang selalu setia bersamanya mengais rejeki di Tanah Papua.

Sebagai sopir angkot, suka duka sungguh terasa. Suka disaat setoran harian sesuai target. Namun duka disaat ditilang petugas keamanaan karena kelalian yang dilakukan. Tahun 2010, Ignas Boro kembali ke Kampung sejak merantau tahun 2006.

Tak berselang lama di kampung, Ignas Boro kembali lagi ke Jayapura dengan pekerjaan yang sama, sopir taksi kota. Di Jayapura sejak 2010 hingga 2012, Ignas Boro Menemukan jodohnya, dan menikah dengan Enjel Langodai.

 Ditahun ini, Ia kembali ke kampung dan berada dikampung dari tahun 2012 hingga 2014. Dua tahun di kampung, Ignas Boro terlibat aktif bersama murine Lewobelolo. Ia dikenal gesit saat menjalankan peran pelayanan disaat ada kematian di Dusun Lewobelolon. Ia sempat dipercayakan menjadi bendara Kelompekcapir Karya Baru dimasa pimpinan Aleksander Bahi. Agustus 2014 Ignas Boro kembali ke Jayapura, masih dalam pekerjaan yang sama.

Gejala sakit mulai Ia rasa di Bulan Juli tahun 2016. Sakit berawal di area mulut. Terasa seperti Sariawan. Hingga terjangkit ke tenggorakan. Awalnya terasa biasa saja. Namun lama kelamaan gejala sakit ini semakin terasa. Tanda berikut adalah penurunan berat badan. Di Jayapura, bersama teman - temannya Ia dihantar ke beberapa rumah sakit, namun penyakit apa yang diderita tidak bisa didiagnosa. Agustus 2016, dengan dukungan dari teman - teman Perkumpulan Arisan Honihama Riangduli, Ia kembali ke kampung dengan menumpang pesawat Jayapura - Makasar. Makasar - Larantuka dengan Menumpang Kapal Lambelu dan tiba di Kampung halamannya Honihama.

Dalam kondisi sakit. Keluarga berusaha mencari jalan keluar penyembuhan baik medis maupun non medis. Upaya ini, genap sebulan. Ada perubahan, namun perubahan itu tidak membuat Ignas Boro sembuh dari sakit yang ia derita. Ignas Boro Sembuh total pada Hari Kamis 15 September 2016 Pkl 10.00 saat menghembuskan nafas terakhir dijemput pemilik kehidupan, sang khalik, Tuhan yang kuasa. Ia meninggal pada rentang usia 30 tahun 3 bulan 7 hari.Meninggalkan oramg tua, istri Enjel Langodai dan Anak semata wayang Sandra yang saat ini berusia 3 Tahun.

UCAPAN BELANGSUNGKAWA DI FACEBOOK

Dari Perkumpulan Arisan Honihama - Rianghduli yang diwakili David Bahy Ongenulan.
" Kami perkumpulan Honihama - Riangduli di Jayapura turut berlangsungkawa atas dipanggilnya anak, saudara kami, Ignasius Boro Guru. Kami mendoakanmu semoga arwah adik kami ini diterima di sisi kanan Allah Bapa yang maha kuasa. Budi baik saudara kami ini tidak dapat membalasnya, hanya kami serahkan kepada Tuhan untuk membalas semua ini. Doa kami menyertai kepergiannmu. "Amane, molo lau. Nuane tou tite hama - hama heru lau lewo mure"

Aryantho Choerman
Peteno tua di Boro, Rera Bau kae ne mo biasa telponek. " Arik, dai tenu kopi pia lango ki naku pehen batang be telo di melah. Kenehi tua di mo Boro.. Ama Brutallo, mo molo kame dore.


Disusun oleh : Maksimus Masan Kian, Stanislaus Lamapaha, Rinus Kurman, Karolus Kopong Kuma, Alexander Muli Boli.
Dibacakan oleh Stanislaus Lamapaha pada Acara Penguburan, Jumat 16 September 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar