(Ignasius Boro Guru. 1986- 2016)
Boro Guru,
lahir dari pasangan suami - istri Bapak Maksimus Raya Hama dan Ibu Kristina
Kewa Payon. Ia lahir di Honihama, tepat tanggal 8 Juni 1986, Putra sulung dari
tiga bersaudara, adik Ermelinda Dai Doni dan Bartolomeus Bao.
Dalam
keyakinan katolik, Boro Guru dipermandikan dengan nama lengkap, Ignasius Boro
Guru di Gereja St. Yudokus Honihama.
Mulai
mengenal dunia pendidikan pada tahun 1993. Belajar selama 6 tahun di SDK Honihama
dan tamat pada tahun 1999 bersama teman - teman seangkatan diantaranya Stanis
Lamapaha, Aleks Muli, Mely, Ely Bahi, Meri Boleng, Karol Cr, Rofin Ola, Ito
Bahi, Wens Kurman, Yance Bahi, Tinus Pugel, Kristina Barek Arane, Wilem Wara,
Daprosa Prada, Ester Murin Boro, Hermina Wae Raya, Ina Osi, Busa Bolen, Agata
Geben, Didakus Beda Ola, Nikah Tokan, dan Maksi Masan.
Tamat
sekolah dasar, Ia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP di SMPN 2 Adonara Timur
Witihama tahun 1999, tamat pada tahun 2002. Selanjutnya ke jenjang SMA di SMAK
Lamaholot Witihama, namun tidak tamat. Tak lagi di dunia pendidikan, Ignas Boro
Guru untuk pertama kalinya mengadu nasip diperantauan pada tahun 2006. Saat
itu, Ignas merantau bersama Stanis Lamaile dengan tujuan Jayapura.
Di Jayapura,
Ia bersama teman - teman yang sudah lebih dulu di Jayapura diantaranya Karol
Kopong Kuma, Poni Pugel, Konce Pugel dan Carol Curman, Emen Curman, Rinus
Curman, dll. Tempat kerja mereka yang pertama di CV. Multimandiri dengan tugas
menghantar barang barang sembako keliling Jayapura. Pengalaman kerja ini
menghantar Ignas Boro menjadi sopir taksi dalam Kota Jayapura. Brutal sapaan
gaul teman - teman seangkatannya, bekerja sebagai sopor taksi dengan majikan
seorang tentara asal Jawa.
Horor, nama
taksi yang selalu setia bersamanya mengais rejeki di Tanah Papua.
Sebagai
sopir angkot, suka duka sungguh terasa. Suka disaat setoran harian sesuai
target. Namun duka disaat ditilang petugas keamanaan karena kelalian yang
dilakukan. Tahun 2010, Ignas Boro kembali ke Kampung sejak merantau tahun 2006.
Tak
berselang lama di kampung, Ignas Boro kembali lagi ke Jayapura dengan pekerjaan
yang sama, sopir taksi kota. Di Jayapura sejak 2010 hingga 2012, Ignas Boro
Menemukan jodohnya, dan menikah dengan Enjel Langodai.
Ditahun ini, Ia kembali ke kampung dan berada
dikampung dari tahun 2012 hingga 2014. Dua tahun di kampung, Ignas Boro
terlibat aktif bersama murine Lewobelolo. Ia dikenal gesit saat menjalankan
peran pelayanan disaat ada kematian di Dusun Lewobelolon. Ia sempat
dipercayakan menjadi bendara Kelompekcapir Karya Baru dimasa pimpinan
Aleksander Bahi. Agustus 2014 Ignas Boro kembali ke Jayapura, masih dalam
pekerjaan yang sama.
Gejala sakit
mulai Ia rasa di Bulan Juli tahun 2016. Sakit berawal di area mulut. Terasa seperti
Sariawan. Hingga terjangkit ke tenggorakan. Awalnya terasa biasa saja. Namun
lama kelamaan gejala sakit ini semakin terasa. Tanda berikut adalah penurunan
berat badan. Di Jayapura, bersama teman - temannya Ia dihantar ke beberapa
rumah sakit, namun penyakit apa yang diderita tidak bisa didiagnosa. Agustus
2016, dengan dukungan dari teman - teman Perkumpulan Arisan Honihama Riangduli,
Ia kembali ke kampung dengan menumpang pesawat Jayapura - Makasar. Makasar -
Larantuka dengan Menumpang Kapal Lambelu dan tiba di Kampung halamannya
Honihama.
Dalam
kondisi sakit. Keluarga berusaha mencari jalan keluar penyembuhan baik medis
maupun non medis. Upaya ini, genap sebulan. Ada perubahan, namun perubahan itu
tidak membuat Ignas Boro sembuh dari sakit yang ia derita. Ignas Boro Sembuh
total pada Hari Kamis 15 September 2016 Pkl 10.00 saat menghembuskan nafas
terakhir dijemput pemilik kehidupan, sang khalik, Tuhan yang kuasa. Ia
meninggal pada rentang usia 30 tahun 3 bulan 7 hari.Meninggalkan oramg tua, istri
Enjel Langodai dan Anak semata wayang Sandra yang saat ini berusia 3 Tahun.
UCAPAN
BELANGSUNGKAWA DI FACEBOOK
Dari Perkumpulan Arisan Honihama - Rianghduli yang diwakili
David Bahy Ongenulan.
" Kami
perkumpulan Honihama - Riangduli di Jayapura turut berlangsungkawa atas
dipanggilnya anak, saudara kami, Ignasius Boro Guru. Kami mendoakanmu semoga
arwah adik kami ini diterima di sisi kanan Allah Bapa yang maha kuasa. Budi
baik saudara kami ini tidak dapat membalasnya, hanya kami serahkan kepada Tuhan
untuk membalas semua ini. Doa kami menyertai kepergiannmu. "Amane, molo
lau. Nuane tou tite hama - hama heru lau lewo mure"
Aryantho
Choerman
Peteno tua
di Boro, Rera Bau kae ne mo biasa telponek. " Arik, dai tenu kopi pia
lango ki naku pehen batang be telo di melah. Kenehi tua di mo Boro.. Ama Brutallo,
mo molo kame dore.
Disusun
oleh : Maksimus Masan Kian, Stanislaus Lamapaha, Rinus Kurman, Karolus Kopong
Kuma, Alexander Muli Boli.
Dibacakan oleh
Stanislaus Lamapaha pada Acara Penguburan, Jumat 16 September 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar